Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan

Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan

Sanggau, IndoKalbarNews - Meliau memanas, aksi pembakaran lanting jek penambang emas tanpa ijin ( PETI ) di Sungai Boyan, kecamtan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, memanas.

Hal tersebut merupakan hasil persetujuan dari beberapa warga yang mendesak diberlakukannya PETI di wilayah tersebut. 

Peristiwa itu merupakan gejolak akumulatif warga di bantaran Sungai Boyan akhirnya mencapai titik didih.

Sebuah lanting jek, ponton kayu yang menjadi instrumen vital aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), hangus dilalap api.

Amukan massa ini menjadi puncak frustrasi terhadap degradasi lingkungan yang tak kunjung tercapai, sekaligus output keras bagi otoritas yang dianggap tumpul.

Kepolisian Sektor Meliau sejatinya bukan tanpa usaha. Kapolsek Meliau, Iptu Supar, menegaskan bahwa imbauan preventif hingga langkah persuasif berulang kali digelar. Instruksi untuk menyetop operasi ilegal itu selalu berakhir antiklimaks.

“Akan tetapi seringkali mengabaikannya,” ujar Iptu Supar, pada Selasa (22/7/2026) menanggapi peristiwa kebakaran di perairan Desa Pampang II .

Ironi ini menyebutkan kedaulatan hukum seolah-olah dihilangkan ditelan deru mesin tambang emas ilegal.

Ironi Kekuasaan

Kepala Desa Pampang II, Marianto, mencoba meluruskan penyebab. Ia menyatakan, kekeruhan Sungai Boyan tidak semata-mata dipicu oleh aktivitas di wilayah administrasinya.

Sumber utama kekeruhan justru berasal dari aktivitas masif di hulu, tepatnya di Kuala Rosan dan Sungai Kembayau.

Distingsi ini krusial, sebab kemarahan warga terlontar ke unit operasi terdekat, sementara biang kerok justru berpotensi mengalir dari area lain.

Dimensi politik juga menyeruak. Nama Fransiskus Taufik, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sanggau dari Fraksi Golkar yang mewakili Dapil Sanggau 2, terseret dalam pusaran informasi.

Saat dikonfirmasi, politisi petahana periode 2024–2029 itu memilih mendekatkan barikade informasi.

Itu mengindikasikan manuver penghindaran atau sekadar ketidakmauan untuk terlibat dalam narasi yang sedang bergulir.

Air Keruh

Pembakaran lanting jek bukanlah vandalisme tanpa sebab. Seorang tokoh masyarakat yang memilih anonim mengurai benang merah kejadian tersebut.

Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan akut yang konversi menjadi peringatan keras.

“Itu dikarenakan sudah mengganggu sumber air yang menjadi kebutuhan masyarakat di mana pada saat ini musim kemarau air surut,” bebernya.
Kemarau memperparah krisis air bersih karena jaringan pipanisasi yang dijanjikan tidak akan optimal.

Eskalasi ancaman pun disuarakan lantang. Apabila dalam hitungan hari hingga depan aktivitas PETI masih terus beroperasi, warga tak akan ragu menggelar operasi penyisiran besar-besaran.

“Akan melakukan swiping mulai dari Sungai Kembayau, Sungai Kualau Rosan,” cetusnya. Pernyataan ini adalah ultimatum terbuka biarkan sungai mati, maka konflik horizontal siap meledak.
Baca Juga
Berita Terbaru
  • Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan
  • Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan
  • Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan
  • Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan
  • Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan
  • Lanting Jek PETI di Bakar Warga, Beberapa Nama Penting Menyeruak Kepermukaan
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad